#Di panti Darul# Azhar
Terakhir waktu berpisah di pondok, dengan butiran air mata yg bening. Kaki melangkah dari asrama terasa gundah, melihat lambaian tangan teman dan guru yg memberi semangat utk maju kedepan menggapai cita-cita yg di inginkan ortu dan keluarga.
Meskipun belum dapat izin dari seorang guru, waktu begitu lama dalam perjalanan menuju ke Tanah bumbu. Debu selalu menyelimuti dalam panasnya perjalanan, matahari pun tenggelam langit hitam bertabur bintang memberikan keindahan dalam perjalanan. Begitu sangat melelahkan, hati mulai resah dan bertanya "apakah dekat sudah yg namanya Tanah Bumbu... ?"
Begitu sampai di Batu Licin,melihat kotanya sunyi di karenakan angin malam menghembus di antara lampu di pinggir -pinggir jalan.
Besok hari kamis.
Kami menuju ke panti, di mana kami berlima akan tinggal di sini. Awal kali melangkah masuk pagar, hati berbicara hari ini saya akan membuka lembaran hidup baru, merasakan bagaimana rasanya hidup di kota orang. Tempat belum rampung, air sering tidak ada. Mau mandi & mencuci baju harus numpang. Untung ada tetangga dekat panti yg baik, beliau orang Jawa, karena beliau sendirian di rumah. Hari berganti hari, tidak terasa udah satu minggu. Begini begitu semua terjadi, sakit rasa suka duka kami lewati bersama. Alangkah lelah kaki ini melangkah di bawah terik sinar matahari, tak pernah merasakan mengambil air di sumur. Sekarang mengalami hati menjengkelkan atas terjadinya kejadian seperti ini. Sungguh malang nasib kami. Kepada siapa kami ingin mengadukan perasaan yg gundah ini. Sabar & tawakkal selalu berdo'a hanya kepada orang Yang Menjadikan segala sesuatu yg terjadi, karena semua ini sudah di tentukan. Besok dan seterusnya sampai kapan tak tahu, kami menjalani perjalanan yg jauh berbeda dengan kondisi kami pada waktu di pondok dulu. Dari sikap atasan & kelakuan anak -anak yg kami jauh tak mengerti apa yg mereka hendaki diam di sini?
Dari awal berjumpa kami serasa beda tapi lama kelamaan semua terasa nyaman. Kami kenal dengan dua ustadz yg sudah berkeluarga masing-masing punya satu anak. Terus kami kenal dengan yg namanya seorang yg belum berkeluarga yaitu Bapa Alpan & perempuannya k'Desy. Ada Bu Mukhlis & Bu Norma. Tapi yg menyuruh kami datang ke sini adalah p'Hadrawi. Terkadang kami berfikir sejenak ingin berhenti dari sini, air mata terkadang mengalir di pipi. Kegelisahan hati sudah mulai, karena keberadaan saya di sini menggantungkan masalah pribadi. Kemudian pada suatu hari ada dua ustadz baru datang, Habib Qadri yg bawa. Namanya ustadz Ikbal & Fahmi. Terus ada lagi p'Sayful.
Pada waktu itu cuma saya yg bawa hp, entah kenapa saya sangat kenal jadinya Ma p'Alpan karena sering sms. Semua orang bisa melihat kalau beliau suka sama saya, tapi saya ga pernah menanggapinya. Saya tidak sadar kalau K'Desy suka sama P'Alpan. Dari sana ada kecemburuan antara sesama kawan, maka saya berusaha untuk menjauh menghindar agar tidak ada masalah dengan K'Desy. Itu mudah saya lakukan karena saya tidak punya sedikit pun perasaan. Smsnya jarang saya balas, kemudian pada waktu rapat saya di tarik P'Sayful untuk gabung dengan ustadz Ikbal menjadi anggota bagian Keamanan &Kesehatan. Tapi p'Alpan ingin saya gabung dengan beliau & k'Desy. Dalam bidang olahraga, emang saya ga mikir apa. Tentu saja saya tidak ingin jadi orang yg ketiga yg ada d'antara mereka berdua. Lebih baik milih ikut ma p'Sayful, jadi saya mulai akrab dengan ustadz Ikbal p'Alpan cemburu. Dan tidak tahu kenapa k'Desy cemburu juga dengan saya karena dekat dengan ustadZ Ikbal. Padahal beliau sudah punya istri, begitu juga dengan p'Sayful. Saya dekat dengan dua ustadz itu. Sampai akhirnya mereka tahu kalau saya punya hubungan dengan seseorang. Akhirnya p'Alpan mengetahui juga. Bila setiap ada bunyi sms atau bunyi telpon beliau marah, cemburu. Pernah waktu di rumah sakit, saya lagi di telpon oleh dirinya. Mendengar begitu p'Alpan langsung ngajak p'Sayful untuk pulang. Terus saya di ceritakan atas kejadian yg saya sendiri tidak menyadarinya. Kenapa diri saya jadi bahan permasalahan antara orang -orang sini. Sudah yg di fikirkan masalah anak anak, masalah tempat yg tidak ada air dan macam macam. Di tekankan masalah pribadi lagi. Saya sering nelpon mama ceritakan masalah pribadi saya yg terganggu. Tapi mama belum mengerti.